Sunday, August 5, 2012

PRINSIP GEOGRAFI


Prinsip dalam ilmu geografi merupakan dasar dalam menguraikan, mengkaji, menganalisis, dan mengungkapkan gejala, variabel, faktor, serta masalah geografi. Kegunaan prinsip dasar dalam kajian geografi sebagai berikut.
a.     Prinsip deskripsi berguna untuk mempelajari gejala, fakta, atau peristiwa yang terjadi di permukaan Bumi
b.    Prinsip interelasi berguna untuk mempelajari keterkaitan antara gejala, fakta, atau peristiwa di permukaan Bumi.
c.     Prinsip distribusi berguna untuk mempelajari persebaran fenomena geosfer di permukaan Bumi.
d.    Prinsip korologi berguna untuk mendeskripsikan, mengkaji persebaran, dan mengkaji interelasi fenomena dalam ruang.

1.  Prinsip Distribusi/Persebaran
Prinsip distribusi (persebaran) menjelaskan bahwa persebaran fenomena di permukaan Bumi bervariasi atau tidak merata. Fenomena yang dimaksud dapat berupa fenomena alam atau fenomena sosial.Variasi persebaran dapat berupa fenomena yang mengelompok, menyebar, emanjang, atau tidak beraturan. Contoh kajian menggunakan prinsip distribusi adalah perbedaan jenis tanah pada setiap wilayah di Indonesia. Hal itu menunjukkan adanya fenomena persebaran yang tidak merata.
Migrasi penduduk disebabkan sedikitnya potensi ekonomi di daerah asal, menunjukkan bahwa potensi ekonomi tiap-tiap wilayah tidak sama. Penduduk yang tinggal di daerah dengan potensi ekonomi rendah akan mencari daerah lain yang memiliki potensi ekonomi lebih tinggi. Contohnya perpindahan penduduk dari daerah tandus ke daerah subur.
Prinsip persebaran menjelaskan persebaran fenomena alam dan fenomena sosial. Fenomena sosial yang dikaji dalam prinsip persebaran meliputi lingkungan sosial (hukum, adat, dan tradisi), bentang alam budi daya (permukiman, persawahan, dan perkebunan), serta masyarakat.
Prinsip distribusi (persebaran) menjelaskan bahwa persebaran fenomena di permukaan Bumi ber-variasi.Variasi persebaran dapat berupa fenomena yang mengelompok, menyebar, memanjang, dan tidak beraturan. Contoh kajian prinsip persebaran adalah persebaran jenis tanah di Indonesia yang berbeda-beda pada setiap wilayah.
2. Prinsip Interelasi
Prinsip interelasi mengkaji keterkaitan permasalahan yang terjadi di alam dalam hubungannya dengan manusia. Interelasi dapat terjadi antara alam dengan alam itu sendiri ataupun antara alam dengan manusia.
Contoh : Interelasi alam dengan alam
1.    Terjadinya angin disebabkan adanya perbedaan tekanan udara di dua tempat.
2.    Adanya aktivitas gunungapi menyebabkan mata air panas dan energi panas Bumi.
3.    Gempa tektonik terjadi akibat gerakan antara dua lempeng yang saling menjauh atau bertumbukan.
Contoh : Interelasi alam dengan manusia
Banjir di daerah hilir sungai terjadi akibat penggundulan hutan di wilayah hulu.
Prinsip interelasi menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lain dalam suatu ruang. Hubungan dapat berupa hubungan timbal balik atau saling memengaruhi. Hubungan juga dapat terjadi antara fenomena fisik dengan fenomena fisik serta fenomena fisik dengan fenomena sosial
3. Prinsip Deskripsi
Prinsip deskripsi menjabarkan atau mendeskripsikan keterkaitan antara aspek alam dan aspek manusia. Pendeskripsian itu melalui fakta, gejala dan masalah, serta sebab akibat secara kualitatif dan kuantitatif. Pendeskripsian dilakukan dengan bantuan peta, grafik, dan diagram. Pendeskripsian ini akan membantu memahami berbagai fenomena alam ataupun sosial yang terjadi di permukaan Bumi.
Contoh :
1.    Fenomena gempa tektonik yang terjadi di Meulaboh, Aceh, diakibatkan gerakan sesar lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
2.    Penjelasan karakteristik penduduk suatu daerah.
3.    Hutan sebagai suatu ekosistem memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia
4.    sebagai daerah resapan air, mencegah terjadinya banjir, dan mencegah pencemaran udara.

4.    Prinsip Korologi
Prinsip korologi, fenomena yang terjadi akan dideskripsikan serta dikaji persebaran dan interelasinya dalam suatu ruang. Kondisi ruang akan memberikan corak pada kesatuan gejala, fungsi, dan bentuk.
Prinsip korologi dapat diartikan sebagai analisis suatu fenomena geosfer menggunakan gabungan dari prinsip deskripsi, persebaran, dan interelasi. Dalam analisis menggunakan prinsip ini, fenomena yang terjadi akan dideskripsikan serta dikaji persebaran dan interelasinya dalam suatu ruang.
Contohnya:
Kondisi wilayah Indonesia yang kaya bahan tambang dan gunungapi akibat letaknya yang merupakan pertemuan lempeng tektonik tepat dikaji dengan prinsip korologi. Prinsip korologi merupakan metode menganalisis suatu fenomena geosfer menggunakan gabungan dari prinsip deskripsi, persebaran, dan interelasi. Dalam analisis menggunakan prinsip ini, fenomena yang terjadi akan dideskripsikan serta dikaji persebaran dan interelasinya dalam suatu ruang.

PERKEMBANGAN ILMU GEOGRAFI


Tahap perkembangan ilmu geografi seiring dengan perkembangan interaksi antara manusia dengan lingkungan sebagai berikut.
a.     Tahap determinisme atau paham determinisme, yaitu tahap ketika kehidupan manusia masih bergantung pada alam. Dalam tahap ini alam memengaruhi manusia karena tingkat kebudayaan manusia belum cukup untuk mengolah alam. Contohnya, kehidupan nomaden yang dialami manusia purba.
b.     Tahap posibilisme atau paham posibilisme, yaitu tahap ketika alam dan manusia saling mempengaruhi. Alam memberikan peluang kepada manusia untuk berkembang. Pada tahap ini manusia sudah mampu mengurangi ketergantungannya terhadap alam, tetapi masih tetap membutuhkan alam.
c.     Tahap optimis teknologi, yaitu tahap ketika manusia dapat memengaruhi alam. Artinya, manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya dapat mengolah lingkungan alam sesuai dengan keinginannya.

PENDEKATAN GEOGRAFI


Dalam memahami suatu masalah tentunya diperlukan metode atau cara, begitu pula dengan ilmu geografi. Pendekatan geografi merupakan metode atau cara analisis untuk memahami berbagai gejala dan fenomena geosfer yang terjadi di permukaan bumi.
Pendekatan dalam suatu konsep ilmu digunakan untuk memahami objek kajian dari ilmu itu sendiri. Penggunaan pendekatan yang tepat terhadap fenomena geografi akan memberikan hasil analisis yang tepat dan benar. Hal itu secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan secara tepat.
Analisis gejala-gejala di permukaan Bumi menggunakan pendekatan geografi dapat dilakukan dengan menerapkan pertanyaan 5W 1H (what, when, where, why, who, dan how). Pertanyaan “what” ( fenomena apa yang terjadi), “When” (kapan fenomena terjadi), “where” (dimana fenomena itu terjadi), “who” (siapa yang menyebabkan fenomena itu terjadi) Pertanyaan ”why” (mengapa) pada peristiwa banjir menekankan pada penyebab terjadinya banjir. pernyataan yang menunjukkan sebab banjir. Banjir bandang terjadi disebabkan oleh penebangan liar. Penebangan liar menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tidak mampu menahan air hujan yang berlebih.
Pendekatan yang digunakan dalam geografi di bedakan menjadi 3 bagian yaitu :
1.    Pendekatan Keruangan
Ruang adalah seluruh permukaan Bumi yang merupakan tempat hidup tumbuhan, hewan, dan manusia. Pendekatan keruangan menganalisis gejala atau fenomena geografis berdasarkan penyebarannya dalam ruang. Analisis keruangan merupakan pendekatan yang khas dalam geografi sebab merupakan studi tentang keanekaragaman ruang muka Bumi.
Pendekatan keruangan mendasarkan pada perbedaan sifat penting lokasi seperti struktur, pola, dan proses. Struktur keruangan berkaitan dengan elemen pembentuk ruang berupa kenampakan titik (point features), kenampakan garis (line features), dan kenampakan area (areal features. Data lokasi yang dibutuhkan dalam analisis keruangan meliputi data titik, garis, dan area. Data garis yang diperlukan antara sungai, jalan raya, dan batas wilayah. Data titik antara lain meliputi titik ketinggian, gedung, dan gunung. Sementara itu, data area meliputi hutan, permukiman, perkebunan, dan persawahan.
Pendekatan keruangan mengkaji suatu permasalahan berdasarkan ruang kejadiannya. Manusia merupakan subjek dalam kajian keruangan karena kegiatan manusia mampu memengaruhi penggunaan ruang, penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan, serta pola keruangan yang dihasilkan.
Pendekatan keruangan mengkaji fenomena geosfer dengan analisis aktivitas manusia, topik, dan regional.
Analisis pendekatan aktivitas manusia mengkaji hubungan aktivitas manusia dalam ruang. Contohnya, pemanfaatan dataran rendah untuk lahan pertanian.
Analisis pendekatan topik diperlukan dalam kajian keruangan. Pendekatan topik menghubungkan suatu kejadian dengan tema utama dalam permasalahan tersebut. Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji fenomena geografi dari topik tertentu yang menjadi pusat perhatian.
Contohnya, wabah penyakit demam berdarah di suatu wilayah. Penyakit demam berdarah menjadi topik utama karena menyerang penduduk yang berdomisili di wilayah tersebut.
Pendekatan keruangan mengkaji suatu fenomena dalam ruang. Analisis regional dalam pendekatan keruangan menjelaskan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik tersendiri. Contohnya, daerah hujan tropis didominasi oleh tumbuhan besar dan berdaun lebar.
Contoh penggunaan pendekatan keruangan dalam analisis geografi sebagai berikut.
a.     Terbentuknya pola permukiman yang berbeda di daerah pegunungan dan sepanjang aliran sungai.
b.    Kepadatan penduduk di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan.
c.     Permasalahan kependudukan di negara berkembang lebih kompleks dibandingkan dengan negara maju.
Analisis yang digunakan dalam pendekatan keruangan sebagai berikut.
a.      Pendekatan topik adalah kajian yang menghubungkan suatu kejadian dengan tema utama dalam permasalahan tersebut.
b.      Pendekatan aktivitas manusia adalah kajian yang menghubungkan aktivitas manusia dalam ruang.
c.      Pendekatan wilayah, menjelaskan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik tersendiri.

2.    Pendekatan Kelingkungaan (ekologi)
Pendekatan kelingkungan (ekologi) tidak hanya mendasarkan pada interaksi organisme dengan lingkungan, tetapi juga dikaitkan dengan fenomena yang ada serta perilaku manusia. Pada dasarnya lingkungan geografi mempunyai dua sisi, yaitu perilaku manusia dan fenomena lingkungan. Sisi perilaku manusia mencakup dua aspek, yaitu pengembangan gagasan dan kesadaran lingkungan. Interelasi keduanya menjadi ciri khas pendekatan kelingkungan. Perkembangan cara penebangan pohon dari menggunakan gergaji menjadi menggunakan mesin merupakan contoh pengembangan gagasan manusia dalam memanfaatkan lingkungan. Oleh karena itu, fenomena ini merupakan contoh aplikasi pendekatan kelingkungan. Pendekatan kelingkungan mengkaji interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan dan interaksi antarmakhluk hidup, termasuk di dalamnya tindakan manusia dalam memanfaatkan alam. Karakteristik manusia yang dapat diamati melalui pendekatan ini adalah mengembangkan gagasan dan kesadaran lingkungan. Pengembangan gagasan untuk memanfaatkan lingkungan hendaknya memperhitungkan dampak yang akan ditimbulkan. Kesadaran lingkungan terlihat dalam setiap kegiatan manusia saat memanfaatkan alam. Contoh kesadaran lingkungan adalah penghijauan kembali hutan yang gundul.
Pendekatan kelingkungan berperan untuk mengkaji permasalahan yang disebabkan oleh interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan interaksi antara makhluk hidup yang satu dengan yang lain. Makhluk hidup yang memiliki peran penting dalam interaksi tersebut adalah manusia. Oleh karena itu, pendekatan kelingkungan dapat digunakan untuk mengetahui tindakan manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan serta upaya manusia yang dapat dilakukan untuk menanggulanginya.
Pendekatan kelingkungan merupakan analisis fenomena geosfer berdasarkan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik, fenomena alam, dan perilaku manusia. Contohnya, kerusakan lapisan ozon oleh akumulasi gas CO2 di atmosfer. Akumulasi gas CO2 di atmosfer secara berlebih disebabkan oleh tindakan manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan. Faktor penyebab akumulasi CO2 di atmosfer antara lain emisi gas buang kendaraan bermotor dan asap pabrik industri.
Pendekatan lingkungan (ekologi) menekankan pada keterkaitan antara suatu fenomena geosfer dengan variabel lingkungan yang ada. Kerangka analisis pendekatan kelingkungan tidak hanya mengaitkan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik, tetapi juga mengaitkan hubungan makhluk hidup dengan fenomena alam dan perilaku manusia. Pendekatan kelingkungan (ekologi) merupakan analisis berdasarkan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik, fenomena alam, dan perilaku manusia. Contohnya, kajian mengenai efek penggunaan pestisida terhadap tingkat kesuburan tanah. Kajian ini menunjukkan hubungan perilaku manusia dalam memengaruhi kondisi alam.
Pendekatan kelingkungan atau ekologi adalah pendekatan yang digunakan untuk mengetahui keterkaitan dan hubungan antara unsur-unsur yang berada di lingkungan tertentu, yaitu hubungan antarmakhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan alamnya.
contoh : Akibat ulah manusia yang menebangi hutan mengakibatkan bencana tanah longsor dan banjir. Hal itu mengakibatkan banyak sawah dan daerah pertanian rusak, bahkan banyak ternak dan hewan piaraan yang mati.
3.    Pendekatan Kompleks Wilayah/Analisis kompleks Wilayah
Pendekatan kewilayahan adalah pendekatan yang mendasarkan pada kombinasi antara pendekatan keruangan dan kelingkungan. Pendekatan ini menekankan adanya perbedaan karakteristik tiaptiap wilayah. Perbedaan ini mendorong suatu wilayah berinteraksi dengan wilayah lain. Contoh pendekatan kewilayahan adalah kajian masalah kependudukan. Kondisi kependudukan tiap-tiap wilayah di muka Bumi tidak sama, baik secara kualitas dan kuantitas. Kondisi tersebut mendorong adanya interaksi antarwilayah, seperti transmigrasi dan perdagangan. Aplikasi pendekatan kewilayahan dapat dilakukan dalam perencanaan kawasan transmigrasi. Perencanaan kawasan transmigrasi didasarkan pada perbedaan karakteristik wilayah berupa jumlah penduduk.
Pendekatan kewilayahan mengkaji suatu fenomena dengan mengombinasikan pendekatan keruangan dan kelingkungan sehingga analisisnya mengkaji deskripsi, distribusi, dan hubungan timbal balik antara alam dan makhluk hidup atau antara alam dengan alam. Kajian yang kompleks tersebut pada umumnya digunakan untuk analisis perencanaan tata ruang kota, perencanaan kawasan transmigrasi, dan perencanaan permukiman.
Salah satu penerapan pendekatan kompleks wilayah yang paling tepat adalah kegiatan perencanaan permukiman suatu kawasan. Pendekatan kompleks wilayah atau kewilayahan mengkaji suatu permasalahan dengan mengombinasikan pendekatan keruangan dan kelingkungan. Kajian pendekatan kompleks wilayah dapat menemukan bahwa fenomena yang terjadi di setiap wilayah berbeda-beda.Perbedaan fenomena tersebut membentuk karakteristik wilayah. Contohnya, pembangunan permukiman di wilayah perbukitan dan dataran rendah memerlukan kajian karakteristik tiap-tiap wilayah. Untuk mendapatkan perencanaan kawasan yang tepat, diperlukan pendekatan kompleks wilayah.

Contoh Aplikasi Penggunaan Pendekatan Keruangan dalam Melakukan Analisis Fenomena Geosfer dengan menggunakan Pertanyaan 5 W 1 H yaitu :
Analisis Peristiwa atau gejala alam Gempa Bumi di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006
Dengan mengajukan pertanyaan 5 W 1 H, gejala alam gempa bumi dapat di analisis dengan menggunakan pendekatan keruangan, sehingga faktor penyebab dan solusi dapat di temukan guna meminimalisir dampak yang akan di timbulkan.
1.    Pertanyaan What “apa” Apa fenomena Alam yang terjadi ?
Gempa Bumi
2.    Pertanyaan When “Kapan” Kapan terjadinya ?
Tanggal 27 Mei 2006
3.    Pertanyaan Where “Dimana” Dimana terjadi Gempa Bumi tersebut ?
Sebagian wilayah DIY dan Kab. Klaten, Jawa Tengah
4.    Pertanyaan Why “Mengapa” Mengapa terjadi peristiwa itu !
Peristiwa itu terjadi karena adanya pergerakan lempeng tektonik.
5.    Pertanyaan Who “Siapa” Siapa atau apa yang menyebabkannya !
Adanya tumbukan antara 2 lempeng tektonik
6.    Pertanyaan How “Bagaimana” Bagaimana gempa bumi itu dapat terjadi !
Indonesia terletak di antara pertemuan 3 lempeng tektonik yang terus bergerak. Ketiga lempeng tektonik tersebut adalah lempeng eurasia, indo-australia dan lempeng pasifik. Lempeng tersebut terus bergerak. Apabila terjadi tumbukan antarlempeng mengakibatkan gempa bumi. Peristiwa gempa bumi di Yogyakarta terjadi karena tumbukan antara lempeng indo-australia dengan lempeng eurasia. Akibat tumbukan tersebut lempeng indo-australia menunjam ke bawah lempeng eurasia di zona subduksi.

KONSEP GEOGRAFI MENURUT PARA AHLI


1.              Ptolomaeus, seorang geograf Yunani, menulis buku Guide to Geography atau Panduan Geografi. Ia menulis petunjuk pembuatan peta dan membuat daftar delapan ribu tempat beserta letak lintang dan bujurnya. Salah satu pembaca bukunya adalah Christoper Columbus, orang yang menemukan Benua Amerika. Menurut Ptolomaeus, geografi berbeda dengan korografi. Pembahasan geografi bersifat kuantitatif, sedangkan korografi lebih membahas kenampakan asli daerah.
2.              Eratosthenes merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan istilah geografi. Dalam bahasa Yunani, geografi berarti penggambaran Bumi yang meliputi tanah, iklim, laut, flora, dan manusia. Penggambaran tersebut diperoleh dari hasil perjalanan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Eratosthenes dikenal secara luas sebagai ”Bapak Geografi” dan dianggap sebagai peletak dasar pengetahuan geografi. Eratosthenes, seorang geograf Yunani menulis tentang gambaran permukaan Bumi, sejarah, dan konsep utama geografi dalam bukunya yang berjudul Geographica. Eratosthenes berpendapat bahwa Bumi berbentuk bulat.
3.              Richard Hartshorne, geografi adalah ilmu yang berkepentingan untuk memberikan deskripsi yang teliti, beraturan, dan rasional tentang sifat variabel permukaan Bumi.
4.              Immanuel Kant adalah seorang geograf dan filsuf. Kant menganggap geografi dekat dengan filsafat. Menurutnya, geografi adalah ilmu yang objek studinya meliputi benda-benda dan hal-hal atau gejala-gejala yang tersebar di wilayah permukaan Bumi.
5.              Bernard Varen dikenal dengan Varenius. Dia adalah seorang geograf Jerman. Ia berpendapat dalam bukunya Geographia Generalis, bahwa geografi adalah bagian dari matematika yang membahas keadaan Bumi, bagian-bagiannya, termasuk bendabenda langit lain. Menurut Varenius, geografi dibagi menjadi dua, yaitu geografi umum dan khusus.
6.              Menurut Ellsworth Huntington, geografi adalah studi tentang fenomena permukaan Bumi beserta penduduk yang menghuninya.
7.              Menurut Bintarto, geografi pada dasarnya adalah ilmu pengetahuan yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat Bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak yang khas tentang kehidupan dari unsur-unsur Bumi.
8.              Menurut hasil seminar dan lokakarya Ikatan Geograf Indonesia (IGI), geografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perbedaan dan persamaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan.
9.              Menurut Daldjoeni, geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mengajarkan spasial (ruang), ekologi, dan region (wilayah). Dalam hal spasial, geografi mempelajari persebaran gejala, baik yang alami maupun manusiawi di muka Bumi. Dalam hal ekologi, geografi mempelajari cara manusia beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam hal region, geografi mempelajari wilayah sebagai tempat tinggal manusia berdasarkan kesatuan fisiografisnya.
10.            Bernard Varen dikenal dengan Varenius. Dia adalah seorang geograf Jerman. Ia berpendapat dalam bukunya Geographia Generalis, bahwa geografi adalah bagian dari matematika yang membahas keadaan Bumi, bagian-bagiannya, termasuk bendabenda langit lain. Menurut Varenius, geografi dibagi menjadi dua, yaitu geografi umum dan khusus.
a.     Geografi umum membahas karakteristik Bumi secara umum dan tidak tergantung olehkeadaan suatu wilayah. Geografi umum mencakupterestrial (pengetahuan tentang bentuk dan ukuran Bumi secara keseluruhan), astronomis (membahas hubungan Bumi dengan bintang-bintang yang merupakan cikal bakal ilmu kosmografi), dan komparatif (deskripsi letak dan tempat di permukaan Bumi secara lengkap).
b.    Geografi khusus mendeskripsikan wilayah luas maupun sempit dan terdiri atas tiga bagian, yaitu atmosferis (secara khusus membicarakan iklim), litosferis menelaah permukaan Bumi yang meliputi relief, vegetasi, fauna, dan manusia.

KONSEP ESENSIAL GEOGRAFI


Konsep geografi penting untuk memahami fenomena geografi karena konsep geografi merupakan salah satu dasar dalam ilmu geografi yang membedakan dengan ilmu-ilmu lainnya. Konsep dasar geografi merupakan unsur penting dalam memahami fenomena atau kejadian geografi. Penjabaran konsep geografi selalu berkaitan dengan penyebaran, relasi, fungsi, bentuk, dan proses yang terjadi.
Konsep dasar atau konsep esensial dalam geografi terdiri dari 10 konsep esensial/dasar yaitu :
1. Konsep Lokasi.
Konsep lokasi menjelaskan letak suatu tempat dipermukaan bumi kaitannya dengan karakterisitik atau ciri khas kehidupan makhluk hidup.
Contoh :
1.     orang yang hidup di daerah/lokasi pinggiran pantai suaranya besar di bandingkan dengan suara orang yang tinggal di pegunungan.
2.     Masyarakat yang tinggal di daerah yang suhu udaranya panas pakaiannya tipis di bandingkan dengan masyarakat yang tinggal di daerah dingin
Konsep lokasi terdiri atas lokasi absolut dan lokasi relatif. Lokasi absolut menunjukkan letak suatu wilayah berdasarkan letak lintang dan bujur. Lokasi relatif menunjukkan letak suatu wilayah dilihat dari wilayah lain yang lebih luas. Lokasi absolut Indonesia menjadikan wilayahnya beriklim tropis. Iklim tropis ini menjadikan Indonesia mengalami musim kemarau dan hujan. Lokasi relatif Indonesia di antara Benua Asia dan Australia menjadikan Indonesia sebagai jalur perdagangan yang ramai dikunjungi.
2.       Konsep Jarak
Konsep jarak mengkaji jarak antara suatu tempat dengan tempat lain. Oleh karena itu, konsep jarak memiliki arti penting bagi bidang sosial dan ekonomi masyarakat. Konsep jarak terdiri atas jarak absolut dan jarak relatif. Jarak absolut menunjukkan jarak antarwilayah yang diukur menggunakan satuan panjang. Contohnya, jarak antara Samarinda dan Tarakan di Kalimantan Timur adalah 672 km. Jarak relatif menunjukkan jarak antarwilayah yang mempertimbangkan rute, waktu, atau biaya. Contohnya, jarak antara Jakarta– Palembang dapat ditempuh dalam waktu 1 jam menggunakan pesawat udara.
3.       Konsep keterjangkauan
Konsep keterjangkauan (accessbility) menunjukkan mudah tidaknya suatu tempat dapat dijangkau penduduk dengan memanfaatkan sarana transportasi yang ada di suatu daerah. Keterjangkauan tidak hanya dipengaruhi jarak, tetapi juga medan atau topografi wilayah. Apabila topografi wilayahnya terjal dan curam, keterjangkauannya semakin kecil. Semakin besar gangguan medan, keterjangkauannya semakin kecil. Konsep keterjangkauan mengkaji aksesibilitas untuk mencapai suatu tempat. Dengan demikian, konsep ini mengkaji jarak dan medan. Untuk menghindari kemacetan pada pagi hari, para pekerja memanfaatkan kereta api komuter yang dianggap lebih mudah dan cepat untuk menjangkau tempat kerja. Pernyataan tersebut tepat dikaji dengan konsep keterjangkauan.
Contohnya :
a.     daerah pegunungan memiliki keterjangkauan lebih rendah dibandingkan daerah dataran rendah.
b.     Para korban tanah longsor sulit dievakuasi karena medan yang sulit.
c.     Daerah dengan kemiringan curam sulit dijangkau oleh kendaraan umum.
d.    Jarak Jakarta sampai Cirebon (Jawa Barat) lebih mudah dijangkau dibandingkan dengan Jakarta ke Pulau Kelapa (di Kepulauan Seribu, Jakarta).

4.       Konsep pola
Konsep pola berkaitan dengan bentuk, susunan, atau persebaran fenomena di permukaan Bumi. Kenampakan alam di permukaan Bumi memiliki pola tertentu.  Konsep pola mengkaji susunan, bentuk, atau pola persebaran fenomena dalam ruang permukaan Bumi. Salah satu contoh fenomena yang sesuai dengan konsep pola adalah pemanfaatan mata air di wilayah pegunungan membentuk permukiman menyebar. Konsep pola adalah kajian tentang susunan keruangan objek di permukaan Bumi. Kegiatan manusia memanfaatkan alam membentuk pola-pola tertentu.
Contoh :
a.     Pola Aliran sungai terkait dengan jenis batuan dan struktur geologinya yakni Pola aliran trelis terdapat di daerah lipatan, pola aliran rectanguler terdapat di daerah patahan, dan pola aliran dendritik terdapat di dataran pantai atau plato
b.    Pola pemukiman penduduk terkait dengan sungai, jalan, dan bentuk lahan

5.       Konsep Morfologi
Konsep morfologi berkaitan dengan bentuk-bentuk permukaan Bumi, seperti dataran rendah, bukit, pegunungan, jurang yang curam/terjal. Konsep morfologi dapat digunakan untuk mengkaji bentuk lahan yang terdapat di suatu wilayah. Deretan gunung api terbentuk di Indonesia akibat dari adanya pertemuan tiga lempeng tektonik di wilayah Indonesia. Fenomena tersebut dapat dikaji dengan konsep morfologi. Konsep morfologi berkaitan dengan bentuk-bentuk permukaan Bumi yang dihasilkan oleh aktivitas dari dalam (Tenaga Endogen) dan di luar permukaan Bumi (Tenaga Eksogen).
Contohnya :
a.     Bentuk lahan akan terkait dengan erosi dan sedimentasi, penggunaan lahan, ketebalan lapisan tanah
b.     Pengelompokan pemukiman penduduk cenderung di daerah datar

6.       Konsep Aglomerasi
Konsep aglomerasi menunjukkan adanya pemusatan atau pengelompokan suatu fenomena di permukaan Bumi. Pengelompokan didasarkan pada berbagai hal, misalnya jarak, efisiensi, dan faktor lingkungan yang lebih memberi dampak positif. Contohnya, pengelompokan kawasan permukiman kumuh di pinggiran kota dan pengelompokan permukiman elite di tengah kota.
7.       Konsep Nilai Kegunaan
Konsep nilai kegunaan berkaitan dengan nilai guna suatu daerah dimana Tiap-tiap daerah mempunyai potensi yang berbeda-beda dan bisa dikembangkan sehingga bernilai guna. Nilai kegunaan suatu daerah berpengaruh terhadap perkembangannya. Contohnya, pantai berpasir putih berpotensi untuk daerah wisata.
8.       Konsep Interaksi dan Interdependensi
Konsep interaksi dan interdependensi menunjukkan keterkaitan dan ketergantungan satu daerah dengan daerah lain. Suatu daerah berinteraksi dengan daerah lain guna memenuhi kebutuhan penduduknya sebab tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dari daerahnya sendiri. Kegiatan ekonomi yang berpusat di perkotaan menimbulkan interaksi dengan daerah pinggiran dan desa. Hal ini memberikan dampak untuk daerah perdesaan dan perkotaan. Contoh dampak fenomena tersebut bagi kota adalah tercukupinya tenaga kerja, sedangkan desa kekurangan tenaga kerja produktif.
Konsep interaksi dan interdependensi menunjukkan hubungan timbal balik antarwilayah yang meliputi pergerakan barang, jasa, ide, informasi, dan penduduk. Penggunaan jejaring sosial merupakan cerminan pergerakan barang, jasa, ide, dan informasi yang dibutuhkan individu antarwilayah. Contohnya, kegiatan jual beli barang dan jasa atau persebaran informasi antarindividu dan antarkelompok melalui jejaring sosial.
9.       Konsep diferensiasi areal
Konsep Diferensiasi aresl Menunjukkan bahwa suatu tempat memiliki perbedaan dengan tempat yang lain atau suatu daerah memiliki kekhasan. Perbedaan dapat terjadi dalam hal misalnya bentang alam, penduduk, perekonomian, dan perkembangan wilayah.
10.     Konsep Keterkaitan Keruangan
Konsep ini menunjukkan keterkaitan antarwilayah. Perbedaan potensi antarwilayah mendorong terjadinya interaksi berupa pertukaran barang, manusia, ataupun budaya. Konsep keterkaitan keruangan dalam kajian geografi berperan untuk mengkaji hubungan saling membutuhkan antarwilayah. Keterkaitan keruangan didasari oleh adanya perbedaan potensi antarwilayah. Perbedaan potensi mendorong adanya keterkaitan dalam memenuhi kebutuhan material dan sosial penduduk.
Contohnya:
a.     Kebutuhan beras daerah kota dipenuhi oleh hasil pertanian beras dari desa.
b.    Beras dihasilkan di daerah datar
c.    Rounded Rectangle: RINGKASAN MATERI
Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan. Perkembangan ilmu geografi seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa konsep yang dikemukakan oleh para ahli. Dari konsep ini muncul beberapa pandangan tentang geografi yang masih tetap di pertahankan sampai saat ini dan saling melakukan kritikan yaitu paham Determinisme, Posibilisme dan tahap optimis teknologi. Paham Determinisme menyatakan bahwa “Kehidupan manusia dan kebudayaannya ditentukan oleh alam” paham ini muncul ketika kehidupan manusia masih bergantung pada alam. Dalam tahap ini alam memengaruhi manusia karena tingkat kebudayaan manusia belum cukup untuk mengolah alam. Contohnya, kehidupan nomaden yang dialami manusia purba. Paham posibilisme menyatakan bahwa “Manusia dan kebudayaannya tidak ditentukan oleh alam, tetapi manusia mempunyai peranan aktif terhadap alam, sehingga manusia dapat memilih kebudayaannya, sedangkan alam hanya memberikan kemungkinankemungkinan” paham ini muncul ketika tahap ketika alam dan manusia saling mempengaruhi. Alam memberikan peluang kepada manusia untuk berkembang. Pada tahap ini manusia sudah mampu mengurangi ketergantungannya terhadap alam, tetapi masih tetap membutuhkan alam. Paham Optimisme Teknologi yaitu tahap ketika manusia dapat memengaruhi alam. Artinya, manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya dapat mengolah lingkungan alam sesuai dengan keinginannya. Konsep Dasar atau konsep Esensial geografi terdiri dari 10 (sepuluh) Konsep Geografi yaitu Konsep Lokasi, Konsep jarak, Konsep keterjangkauan, Konsep Pola, Konsep Morfologi, Konsep Aglomerasi, Konsep Nilai kegunaan, Konsep Interkasi dan Interdependensi, Konsep differensiasi areal dan konse Keterkaitan keruangan

 

Perikanan laut di hasilkan oleh daerah pantai (nelayan)